Detik terus berdetak, jenjangkan antara aku dan waktu. Lalu aku yang beku dalam keterasingan masih terlena di kesendirian. Tak jelang walau larut. Semua langkah yang ku jejal hanya demi buntu. Langkah lunglai masih menuju sebuah kepastian semu. Buntu. Kesia-siaan, tak ada yang sia-sia demi buntu ku. Waktu yang ku percumakan telah bertudung dalam semu ku. Maka lihatlah jejakku. Buat apa menggerutu dan menyalahkan sekitar, dera yang tak bersela hanya tujuan. Serba tertangkup, serba tertutup. Lalu menyerah pada buntu. Aku telah melangkah dan menggerakkan hatiku. Namun semua hanya berakhir pada keterasingan. Situasi yang ku cipta demi menemukan pertanyaan dari jawaban yang telah kurangkai. Jawaban yang hadir di keberadaan dan hadirku. Maka bacalah nafasku. Tak perlu bertanya lagi. Segenap relung yang menatap hanya pupus. Liang belulang hanya mengikuti jejak napas yang sengau. Parau meratapi kehidupan tak lagi ada. Pasrah, lalu membatu dalam beku. Ku urung niat tuk bertarung agar tanggu...