Buat apa menggerutu dan menyalahkan sekitar, dera yang tak bersela hanya tujuan. Serba tertangkup, serba tertutup. Lalu menyerah pada buntu. Aku telah melangkah dan menggerakkan hatiku. Namun semua hanya berakhir pada keterasingan. Situasi yang ku cipta demi menemukan pertanyaan dari jawaban yang telah kurangkai. Jawaban yang hadir di keberadaan dan hadirku. Maka bacalah nafasku.
Tak perlu bertanya lagi. Segenap relung yang menatap hanya pupus. Liang belulang hanya mengikuti jejak napas yang sengau. Parau meratapi kehidupan tak lagi ada. Pasrah, lalu membatu dalam beku. Ku urung niat tuk bertarung agar tangguh. Karena hilangku bukan karena hati. Ya, karena jemu ku. Jemu pada sekitar yang busuk di akalku. Tangguh ku hanya demi hidup. Agar tetap berlari lalu menabrakkan diri di tiap rintang yang meradangku.
Sesungguhnya, tak ada yang membakar jalanku. Walau dalam semu waktu. Maka, demi menyengat akal, hati, dan fikir ku. Bakar, remuk, lalu matikan jera itu. Jera yang bukan dera. Jera yang karena langkah buntu buatanku. Tiada keremukan itu di antara hidupku. Maka bekukan rasaku.
0 comments:
Poskan Komentar