tetes peluh, tetes darah sematkan janji pada langkah tertancap jauh sesalkan cara air mata yang teralir hadirkan mimpi yang kelam janji yang terucap tak mampu tenangkan lara pun ciptakan damai nanti, ketika regam jari tak lagi kosong lihatlah hadir ku bergerombong sunggingkan senyum nyalakan lorong lorong
PANTASKAH DIRI MENEGUK INDAH?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
apakah yang terlihat sebagai kebaikan?
jika dalam tiap hela nafas hanya terhembus kehinaan
kehinaan yang membaju
serta kebiadaban di tiap denyut nadi
dimanakah akan terlihat kebaikan?
bila di setiap kerlipan mata hanya terpampang kebejatan
kesalahan-kesalahan tak termaaf
serta diri yang telah begitu terpuruk
sedapat apa maaf terkirim
pada diri yang legam
segala keindahan akan kebahagiaan menghantui
ketakutan hidup dalam mimpi yang begitu nyata
dan mungkin hanya akan berupa semu
telah begitu lama diri terjerembap
hingga mengajarkan bahwa bahagia ini
terlalu nyata untuk abadi
bahkan, mungkin
terlalu dongeng untuk menjadi kenyataan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan populer dari blog ini
Langkah
Kutelah menampung beban di pundakku Yang semoga, takkan sesali Dan di sepanjang perjalanan ku nanti Ku butuh pegangan memandu Agar rencana tak hanya jadi mimpi Telah kutentukan langkahku Demi sebuah awal yang kutuju Semoga, di setegas langkahku nanti Tak ada angkuh meninggi Atau ego melulu Jogja, November 2008
RENCANA
Derit terompet, sorakan ramai Hempaskan kelu ku yang kian membatu Jelmakan malam menjadi sebuah keriangan Di bumi batik yang riuh Riuh, gaduh malam ini Seakan masih baru kemarin Ketika ku menancapkan teguh ku Hingga yakinku Di waktu yang kini, Aku begitu terhanyut Hingga bias melucuti khilafku Diwaktu yang kini, Aku harus berpijak
SETELAH PRAHARA
Gamang, Kegelisahan menerawang dan terus berjalan Tak kunjung hilang Hati berkata, “wahai, selesaikanlah yang telah kau mulai !” Lalu, konfrontasi akal dan hati berlanjut, “wahai, jernihkanlah yang telah kau perkeruh !” Kemudian, terbata ku melangkah Namun setelah prahara itu lusuh Kujadikan ia buah mata Lewat tangisan pena, kesedihan berlanjut Bergetarlah hatiku Ketika semerbak awan mengkabut Hitamkan lelapku, tak terjaga
Komentar