Perlahan,waktu semakin menjadi pikun. Membelokkan fakta dari nyata. Apalagi dengan kehampaan pelaku waktu. Kemudian, mereka yang tersisih oleh cerita hanya bisa memekik, mereka yang terbuang oleh cerita pun terperangah, bahkan mereka yang tersulap oleh cerita juga menganga. Sedangkan mereka yang bercerita, tentang betapa leganya cerita mereka itu, menari-nari dalam fakta rekayasa. Tak perlu mendulang kebenaran yang terkubur itu. Tak ada legitimasi pada kehakikiannya. Setiap lakon mempersembahkan sejarah lewat kisahnya sendiri. Meleburkan antara imajinasi dan segelintir fakta. Agar memperhalus cerita, kilah mereka. Kemudian segala bukti sejarah itu pun tiba-tiba lahir dan membaui logika. Mempertanyakan mana yang fakta. Bahkan untaian cerita yang terlompat atau terhapus, lupa dipertanyakan. Tatkala lakon berganti, cerita pun berubah. Selaku sinema-sinema picisan penghambur kesemuan. Fakta bergulir tergelincir, hingga ke jurang fiksi. Alur kisah tak lagi hanya berbelok, malah berubah ...