tetes peluh, tetes darah sematkan janji pada langkah tertancap jauh sesalkan cara air mata yang teralir hadirkan mimpi yang kelam janji yang terucap tak mampu tenangkan lara pun ciptakan damai nanti, ketika regam jari tak lagi kosong lihatlah hadir ku bergerombong sunggingkan senyum nyalakan lorong lorong
SENGKETA DUKA
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Menangislah bangsaku
Lepaskan amarahmu
Ketika pejabat kita tengah lalai pada harta
Jerit kita tak ada yang mendengar
Mereka lalai dengan kursinya
Maka, tampar mereka dengan deritamu
Bakar mereka dengan dompet kosongmu
Lalu, ketika mereka datang padamu
Membawa suka cita semu
Berbungkus janji penuh harap
Padahal topeng
Penutup wajah busuk mereka
Maka, tampar mereka dengan panci kosongmu
Bakar mereka dengan serapahmu
Dan ketika mereka menebar simpati
Bertanya keluh kesahmu
Maka, tikam mereka dengan tombak kepicikan mereka
Bangsaku,
Kita masih harus terus menangis
Hingga nanti, ketika moral kita
Tak hanya sebatas kurikulum buta
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan populer dari blog ini
Langkah
Kutelah menampung beban di pundakku Yang semoga, takkan sesali Dan di sepanjang perjalanan ku nanti Ku butuh pegangan memandu Agar rencana tak hanya jadi mimpi Telah kutentukan langkahku Demi sebuah awal yang kutuju Semoga, di setegas langkahku nanti Tak ada angkuh meninggi Atau ego melulu Jogja, November 2008
RENCANA
Derit terompet, sorakan ramai Hempaskan kelu ku yang kian membatu Jelmakan malam menjadi sebuah keriangan Di bumi batik yang riuh Riuh, gaduh malam ini Seakan masih baru kemarin Ketika ku menancapkan teguh ku Hingga yakinku Di waktu yang kini, Aku begitu terhanyut Hingga bias melucuti khilafku Diwaktu yang kini, Aku harus berpijak
SETELAH PRAHARA
Gamang, Kegelisahan menerawang dan terus berjalan Tak kunjung hilang Hati berkata, “wahai, selesaikanlah yang telah kau mulai !” Lalu, konfrontasi akal dan hati berlanjut, “wahai, jernihkanlah yang telah kau perkeruh !” Kemudian, terbata ku melangkah Namun setelah prahara itu lusuh Kujadikan ia buah mata Lewat tangisan pena, kesedihan berlanjut Bergetarlah hatiku Ketika semerbak awan mengkabut Hitamkan lelapku, tak terjaga
Komentar