Ketika tragedi silih berganti menghampiri, saling tumpah tindih. Kesal, amarah, berkecamuk tak menentu, dan akhirnya meluap tak terarah. Dan pada ketika itu juga rasa curiga timbul mencari kambing hitam, akar segala permasalahan. Dalam waktu yang bersamaan pula, kau merasa segala yang terjadi adalah skenario mereka-mereka yang menjadi musuh dalam selimut.
Ketika tragedi terjadi akibat dari sebuah skenario, kau merasa menjalani dunia hampa penuh rintangan sendirian. Mengepal genggaman tangan, kibarkan api dendam pada semua yang ada disekitarmu. Bahwa dunia adalah musuhmu, bahwa kesendirian dan kesepian adalah temanmu.
Ketika mereka menertawakan tragedi yang menimpamu, secara tak kuasa kau tersenyum pahit, memaksakan kebesaran hati. Mereka belum merasakan pahitnya tragedi.Sesuatu itu akan menjadi tragedi bagi yang dekat, dan komedi bagi yang jauh.
Ketika itulah orang yang menertawakan tragedimu, atau berpura-pura menangisi tragedimu adalah musuhmu. Bahwa kesendiria...